Selasa, 17 April 2012

Metode Padan dan Metode Agih

Metode adalah cara yang harus dilaksanakan; teknik adalah cara melaksanakan metode. Sebagai cara, kejatian teknik ditentukan adanya oleh alat yang dipakaii (Sudaryanto 1993:9).
1. Metode Padan
Metode Padan sering pula disebut metode identitas ialah metode yang dipakai untuk mengkaji atau menentukan identitas satuan lingual penentu dengan memakai alat penentu yang berada di luar bahasa, terlepas dari bahasa, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan (lihat Sudaryanto 1993). Sudaryanto (1993) membagii metode padan atas lima macam, yaitu: 
·         Metode referensial (referential [identity] method), di mana alat penentunya adalah kenyataan atau segala sesuatu (yang bersifat luar bahasa) yang ditunjuk oleh bahasa.
·         Metode fonetis artikulatoris (articulatory phonetic [identity] method), di mana alat penentunya organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa.
·         Metode translasional (translational [identity] method), di mana alat penentunya bahasa atau lingual lain.
·         Metode ortografis (ortographic [identity] method), di mana alat penentunya perekam dan pengawet bahasa atau tulisan.
·         Metode pragmatis (pragmatic [identity] method}, di mana alat penentunya adalah lawan bicara.

2. Metode Agih
Metode agih adalah metode analisa data dengan alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto,1993:15).
Teknik-teknik analisis yang tercakup dalam metode Agih antara lain :
1)  Teknik Urai Unsur Terkecil 'Ultimate Constituent Analysis' (UCA)
Teknik Urai Unsur Terkecil dimaksudkan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut "morfem". Contoh : Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”.
2) Teknik Pilah Unsur Langsung 'Immediate Constituent Analysis' (ICA)
Teknik ini berdekatan dengan teknik urai unsur terkecil, yaitu memilah atau mengurai suatu konstruksi tertentu (morfologis atau sintaksis) atas unsur-unsur langsungnya. Contoh: Ia pergi ke Jogja ("ia", 'pergi", dan "ke Jogja").
3) Teknik Lesap (delisi)
Teknik delisi adalah suatu unsur atau suatu satuan lingual yang menjadi unsur dari  sebuah konstruksi (morfologi)dilesapkan atau dihilangkan serta akibat-akibat struktural apa yang terjadi dari pelesapan itu. Teknik ini pada hakekatnya adalah pengurangan unsur dari sebuah konstruksi. Contoh: Tadi pagi, ia pergi ke Jogjakarta
Konstruksi "pergi ke Jogjakarta", apakah unsur "ke" pada contoh di atas bersifat wajib atau tidak. Bila "ke" dihilangkan maka akan menjadi: "pergi Jogjakarta".
4) Teknik Ganti (substitusi)
Teknik ganti (substitusi) yaitu menyelidiki adanya kepararelan atau kesejajaran distribusi antara satuan lingual atau antara bentuk linguistik yang satu dengan satuan lingual lainnya. Contoh: ”Mereka pergi ke sekolah”, dan ”Amin pergi ke sekolah”
Kata "Mereka" sekelas, sekategori, dan sejenis dengan kata "Amin", maka pernyataan itu berdasarkan fakta bahwa dalam satuan kalimat dan kekata tertentu keduanya saling menggantikan atau saling digantikan
5) Teknik Perluas (ekspansi)
Teknik perluas adalah teknik memperluas satuan lingual tertentu (yang dikaji atau yang dibahas) dengan "unsur" satuan lingual tertentu baik perluasan ke kiri atau ke kanan. Teknik berguna untuk:
(a) mengetahui identitas satuan lingual tertentu, dan
(b) mengetahui seberapa jauh satuan lingual yang dikaji itu dapat diperluas baik ke kiri maupun ke kanan. Contoh : "Rumah baru dapat diperluas menjadi "rumah [yang] baru", "dalam rumah baru", "dalam sebuah rumah baru", "di dalam rumah yang baru", dan sejenisnya.
6) Teknik Sisip (interupsi)
Teknik sisip adalah kemungkinannya menyisipkan suatu unsur atau satuan lingual tertentu terhadap suatu konstruksi yang sedang kita analisis. Contoh : Orang besar, bisa disisipi "yang" atau "yang agak", orang [yang] besar, orang [yang agak] besar, dan seterusnya.
7) Teknik Balik (permutasi)
Teknik balik ialah kemungkinannya unsur-unsur (langsung) dan sebuah satuan atau konstruksi (morfologis atau fraseologis) dibalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan menguji tingkat keketatan relasi antarunsur (langsung) suatu konstruksi atau satuan lingual tertentu. Contoh: (1) Bir baru, berbeda dengan "baru bir" dan (2) Ali memukul Norton, berbeda dengan "Norton memukul Ali".
Frase "bir baru" yang termasuk frase endosentris atributif benar-benar berbeda dan "baru bir" (belum produksi yang lain) yang dipakai dalam konstruksi mempertentangkan. Kalimat Ali memukul Norton, berbeda dengan Norton memukul Ali, karena kalimat pertama Ali berperan sebagai agentif (pelaku) dan Norton sebagai pasientif (penderita), sedangkan dalam kalimat kedua Norton berperan sebagai agentif (pelaku) dan Ali sebagai pasientif (penderita).

4 komentar:

Hamit Aviciin mengatakan...

halo miss,
Mau bertanya tentang metode ini. kalo saya mencari perbedaan suatu kata kerja yang bersinonim, metode yang digunakan metode padan atau metode agih?

tsuki akari mengatakan...

Coretan yang sangat bermanfaat. Saya sangat berterima kasih atas adanya postingan tersebut. Namun sangat disayangkan, mohon maaf sebelumnya, saya ingin memberi masukan untuk pemilihan warna pada tulisan. dikarenakan background berwarna cokelat gelap, alangkah lebih baiknya jika warna tulisan jangan warna gelap juga (hitam) karena akan menyusahkan pembaca saat membaca. Mungkin bisa diganti dengan warna putih, agar bisa terlihat jelas. Teruslah menulis, ditunggu coretan bermanfaat selanjutnya^^

Unknown mengatakan...

Metode agih

Sulfah Risna mengatakan...

saya sedang meneliti penerjemahan istilah istilah budaya dalam novel berbahasa jerman yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia ditinjau dari metode dan ideologi penerjemahannya. kira kira cocoknya pake metode yang mana yah?

Posting Komentar