Selasa, 17 April 2012

Rene Descartes


A.  Rene Descartes
Rene Descates lahir di La Haye, sebuah kota kecil di Perancis, pada tahun 1596. Waktu mudanya Descartes menghabiskan masa studinya di sekolah Yesuit, College La Fleche. Begitu berumur 20 tahun dia mendapatkan gelar ahli hukum dari Universitas Poitiers,  walaupun tidak pernah mempraktekkan ilmunya sama sekali. Meskipun Descartes memperoleh pendidikan yang baik, tetapi Descartes yakin tak ada ilmu apa pun yang bisa dipercaya tanpa penalaran logika seperti contohnya dalam bidang matematika. Karena itu, bukannya meneruskan pendidikan formalnya, descartes mengambil keputusan untuk berkelana keliling Eropa.
Dari tahun 1616 hingga 1628, Descartes berkeliling dari satu negeri ke negeri lain. Dia memasuki tiga dinas ketentaraan yang berbeda-beda (Belanda, Bavaria dan Honggaria). Descartes juga mengunjungi pula Italia, Polandia, Denmark dan negeri-negeri lainnya. Dalam tahun-tahun ini, dia menghimpun apa saja yang dianggapnya merupakan metode umum untuk menemukan kebenaran. Ketika umurnya 32 tahun, dia lantas menetap di Negeri Belanda dan tinggal di sana selama 21 tahun.
Di tahun 1637 Descartes menerbitkan bukunya yang masyhur Discourse on the Method for Properly Guiding the Reason and Finding Truth in the Sciences (biasanya diringkas saja Discourse on Method).
Didalamnya Descartes menyuguhkan contoh-contoh penemuan-penemuan yang telah dilakukannya dengan menggunakan metode. Tambahan pertamanya Optics, Descartes menjelaskan hukum pelengkungan cahaya (yang sesungguhnya sudah ditemukan oleh Willebord Snell). Dia juga mempersoalkan masalah lensa dan berbagai alat-alat optik, melukiskan fungsi mata dan berbagai kelainan-kelainannya serta menggambarkan teori cahaya yang hakekat versi pemula dari teori gelombang yang belakangan dirumuskan oleh Christiaan Huygens. Tambahan keduanya terdiri dari perbincangan mengenai meteorologi, Descartes membicarakan soal awan, hujan, angin, serta penjelasan mengenai pelangi. Dia mengeluarkan sanggahan terhadap pendapat bahwa panas terdiri dari cairan yang tak tampak oleh mata, dan dia menyimpulkan bahwa panas adalah suatu bentuk dari gerakan intern. (Tetapi, pendapat ini telah ditemukan lebih dulu oleh Francis Bacon dan orang-orang lain). Tambahan ketiga Geometri, dia mempersembahkan sumbangan yang paling penting dari kesemua yang disebut di atas, yaitu penemuannya tentang geometri analitis. Ini merupakan langkah kemajuan besar di bidang matematika, dan menyediakan jalan buat Newton menemukan Kalkulus.
Di tahun 1641 Descartes menerbitkan bukunya yang masyhur Meditations. Dan bukunya Principles of philosophy muncul tahun 1644. Kedua buku itu aslinya ditulis dalam bahasa Latin dan terjemahan Perancisnya terbit tahun 1647.
Tahun 1649 Descartes menerima tawaran bantuan keuangan yang lumayan dari Ratu Christina, Swedia, agar datang ke negerinya dan menjadi guru pribadinya. Descartes sangat kecewa ketika dia tahu sang Ratu ingin diajar pada jam lima pagi. Dia khawatir udara pagi yang dingin bisa membuatnya mati. Dan akhirnya Descartes terkena pneumonia, dan meninggal bulan Februari 1650, cuma empat bulan sesudah sampai di Swedia.

B.  Cogito ergo sum
Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Descartes  meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan yaitu semua pengetahuan tradisional, kesan indrawinya, dan bahkan juga kenyataan bahwa dia mempunyai tubuh, descartes terus meragukan segalanya -hingga dia mencapai satu hal yang tidak dapat diragukan, yakni keberadaan dirinya sebagai pemikir. Oleh karena itu, dia sampai pada pernyataan yang terkenal yaitu Cogito ergo sum. Sehingga dalam berhubungan dengan realita, Descartes mencoba untuk meragukan segala apa yang diterima oleh inderanya dan dia berusaha untuk menguak kenyataan  dengan menggunakan akalnya. Sebab  menurut descartes  hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang dapat disebut sebagai pengetahuan yang ilmiah [3] .
Descartes menawarkan metode-metode dalam menentukan kebenaran dan untuk keluar dari keraguan yang ada. Dimana metode-metode tersebut digunakan untuk sampai pada pengetahuan yang benar [4] :
  1. Seorang filosuf harus hanya menerima suatu pengetahuan yang terang dan jelas.
  2. Mengurai suatu masalah menjadi bagian-bagian kecil sesuai dengan apa yang ingin kita cari. Atau jika masalah itu masih berupa pernyataan: maka pernyataan tersebut harus diurai menjadi pernyataan-pernyataan yang sederhana. Metode yang kedua ini disebut sebagai pola analisis.
  3. Jika kita menemukan suatu gagasan sederhana yang kita anggap Clear and Distinct, kita harus merangkainya untuk menemukan kemungkinan luas dari gagasan tersebut.  Metode yang ketiga ini disebut dengan pola kerja sintesa atau perangkaian.
  4. Pada metode yang keempat dilakukan pemeriksaan kembali terhadap pengetahuan yang telah diperoleh, agar dapat dibuktikan secara pasti bahwa pengetahuan tersebut adalah pengetahuan yang Clear and Distinct yang benar-benar tak memuat satu keraguan pun. Metode yang keempat ini disebut dengan verifikasi.
Untuk mempelajari lebih mendalam tentang anatomi dan fisiologi, dari tahun 1630 sampai 1634, Descartes menggunakan metodenya dalam penelitian ilmiah, dia melakukan penjajagan secara terpisah-pisah.

0 komentar:

Posting Komentar