Kamis, 29 Maret 2012

Cerita Prosa Rakyat : Dongeng dari Daerah Maros


Pendahuluan
Berdasarkan asal katanya, folklor berasal dari dua kata yaitu folk dan lore. Kata folk dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi. Di samping itu, yang paling penting adalah mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri. Kata lore diartikan sebagai tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun, baik secara lisan maupun melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat (mnemonic device). Pengertian folklore secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu. (1)
James Dananjaya (seorang ahli folklor) menyebutkan sembilan ciri folklore, yaitu sebagai berikut :
a. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
b. Tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk yang relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
c. Ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi, folklore dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian, perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
d. Anonim, yaitu penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
e.Mempunyai bentuk berumus atau berpola. Cerita rakyat, misalnya, selalu menggunakan kata-kata klise seperti “bulan empat belas hari” untuk menggambarkan kemarahan seseorang, atau ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, seperti “sohibul hikayat… dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya,” atau “Menurut empunya cerita… demikianlah konon”.
f. Mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
g. Pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklore lisan dan sebagian lisan.
h. Milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya. i. Bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatan kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.

Sebagaimana telah dikemukakan, manusia praaksara telah memiliki kesadaran sejarah. Salah satu cara kita untuk melacak bagaimana kesadaran sejarah yang mereka miliki ialah dengan melihat bentuk folklore. Bentuk folklore yang berkaitan dengan kesadaran sejarah adalah cerita prosa rakyat. Termasuk prosa rakyat antara lain mite atau mitologi, legenda dan dongeng.
Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang dan terjadi pada masa lampau.(2)
Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi manusia, walaupun adakalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal kini, karena waktu terjadinya belum terlalu lampau.(3)
Sebaliknya, dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat (Bascom, 1965b: 3-20).  

Dongeng
Dongeng, merupakan suatu kisah yang di angkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral, yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi, dari pemikiran seseorang yang kemudian di ceritakan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. terkadang kisah dongeng bisa membawa pendengarnya terhanyut kedalam dunia fantasi, tergantung cara penyampaian dongeng tersebut dan pesan moral yang disampaikan (dikutip dari id.wikipedia.org). Dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Sehingga dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran.(4) Dalam tulisan ini, contoh dongeng yang diambil adalah dongeng yang berasal dari daerah Maros. Maros merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah suku Bugis, meski demikian terdapat pula suku Makassar dan suku lainya. Karena disebabkan penduduk maros yang bersuku Bugis-Makassar, hal ini menyebabkan adanya perpaduan kebudayaan antara suku Bugis dan suku Makassar yang terdapat di daerah Maros. Jadi, secara tidak langsung hal tersebut mempengaruhi budaya yang berkembang di daerah tersebut.

 Contoh dongeng

Si Pue-pue
Pagi yang cerah, berangkatlah ia dengan penuh semangat meninggalkan kampung halamanya,dilewatinya beberapa kampung dengan terus menapakkan kaki,hingga disebuah hutan,ketika belum beberapa jauh ia,masuk hutan belantara itu,sesuatu yang tak terduga dialaminya, sebuah auman yang mendirikan bulu kuduk tiba-tiba menggema memenuhi hutan belantara itu.dan tak dinyanah didepanya telah berdiri seekor harimau,ketakutan pun menguasai sipue-pue dan ia hanya mampu memejamkan mata pasrah.dalam kediamanya ia,membayangkan wajahnya dicabik-cabik oleh cakar harimau itu lalu tubuhnya diseret-seretdan satu-satu anggota tubuhnya dilucuti,tapi berselang beberapa lama ia membuka matanya,ketakutan sipue-pue berganti heran,ia mengumpulkan keberanian . “….jika hendak membunuhku lakukanlah,karena tak mungkin lari darimu,sebab kau punya empat kaki dan aku hanya punya dua kecil pula,dan aku tak mungkin kembali sebelum bertemu tuhan”.harimau itu menyelesaikan aumanya lalu manggut dan meninggalkan mangsanya . Ia teruskan langkahnya menyusuri hutan,ketika hampir meninggalkan hutan yang terakhir dilewatinya ,tiba-tiba didengarnya suara dari pohon yang besar “resopa temmangingi nappani naletei pammaseNa*,berjalanlah terus kebarat sampai kau dipenuhi prasangka baik ”,ia terus berjalan sambil memikirkan maksud dari suara itu,dalam kesendirianya sipue-pue memecahkan kesunyian “kucari engkau tuhan ,sampai kekaburan ini menjadi jelas,atau sampai aku tak dapat berjalan atau mati dengan tubuh tetep cacat. Diteruskan langkahnya, hingga ia sampai kesebuah hilir sungai, diatas dahan pohon dilihatnya dua ekor burung seolah bersenda gurau,ia mengendap-endap lalu mengintip,gumamnya ” mungkin ini bagian dari prasangka baik itu…….., -Apa yang di bicarakan dua burung itu yah..?” . lamat-lamat iapun mendengar burung -berjambul merah kuning itu,”tapi ,menukik kebawah dengan cepat dan begitu hampir menyentuh tanah kami sempat berputar lalu melasat naik kembali dengan cara berputar, sesungguhnya itu bukan gaya terbang,tapi kami menyembah tuhan dengan cara seperti itu ““burung berlurik-lurik disebelehnya menimpali “kalau aku sih Cuma merentangkan sayap dalam waktu yang lama, sampai aku melihat butir-butir makanan untuk kuantar kepada anak-anakku yang lapar,setelah ia makan dengan lahap kamipun tersenyum,disitulah kurasakan kasih sayang tuhanku. Sipue-pue sangat serius mendengar percakapan itu tanpa mengedipkan mata,dalam kesamarannya ia bergumam “pohon yang memberi petunjuk dan burung berdialog memberi hikmah,bagaimana mungkin aku……? Ah..”ia mengubur kekesalanya lalu melanjutkan perjalanannya kedaerah pesisir. bertemulah ia.dengan seorang nelayan tua ,” uwa’ dimanakah tuhan itu berada ?” ,”dekatkan telingamu ketanah sebab itu bagian dari kesabaran,ayo…tunduk dan rapatkanlah dan kau tentu mendengar betapa tersiksanya orang-orang yang mati sebelum bertemu tuhan”kata orang tua setengah memaksa,sipue-pue akhirnya mengikuti perintah orang tua itu,semakin rapat telinganya ketanah semakin jelas didengarnya suara-suara orang tersiksa dengan jerit menyayat-nyayat yang tak mungkin telinga apapun sanggup mendengarnya,makin larut ia mendengar makin keringatnya bercucuran memuai seperti biji jagung yang terus keluar dari pori-pori kulitnya,karena penasaran meski cemas,ia terus mendengar sampai kesadaran itu hilang dari dirinya,iapun akhirnya pingsan . Tengah malam muncullah dua sosok malaikat memperbincangkan keadaan sipue-pue”orang ini akan aku lempar ke neraka karena jelas ia,belum bertemu tuhan”,kata malaikat pertama dengan sumringah dingin dengan matanya yang bagai bola-bola api .”tidak….!ia memang belum bertemu tuhan tapi,tidakkah kau lihat upaya yang dilakukanya begitu rupa?”kata malaikat yang sejuk wajahnya itu.”bukankah kematian lebih baik baginya jika terlebih dahulu ia menemukan tuhanya,sebab jika tidak ia pasti menjadi binatang !”kata malikat pertama ketus.ditengah perbantahan kedua malaikat itu,muncullah malaikat Zabaniah*,”diamlah kalian….,serahkan arwah sipue-pue kepadaku dan lihatlah aku melemparnya keneraka,karena tuhan tahu pasti dimana tempat yang cocok untuknya”Arwah sipue-pue kemudian dilempar kedalam neraka,dan ia jatuh pada sebuah tempat . Keesokan harinya sipue-pue yang pingsan dikerumuni oleh nelayan dan ramai berbincang,mereka kira ia telah meninggal,bersamaan dengan itu sipue-pue tersadar dari pingsanya,ia memperhatikan tubuhnya yang- telah utuh,tapi ia tetap menangis sejadi-jadinya “mengapa kalian membangunkan aku,ketika nikmat telah kurasa disisi tuhanku !?”nelayan pun bubar tanpa mengerti maksud sipue-pue. Dengan perasaan bercampur baur sipue-pue pun kembali kekampung halamanya dengan sebuah cita-cita yang baru—bahwa masyarakatpun mesti mengenal tuhanya.(5)

 Pangngulu Lading
 DAHULU, di tanah Bonto Sabu, tinggallah seorang raja bernama La ceddi dan permaisurinya bernama Ji Tanga Bannua. Raja ji Tanga Bannua diangkat memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Beliau dicintai dan ditaati seluruh rakyat, karena budi pekertinya yang baik dan terpuji. Raja memiliki tujuh putri yang cantik, tetapi beliau belum mempunyai putra yang akan menggantikannya kelak. Dari ketujuh putri itu yang tercantik adalah Putri Bungsu. Selain cantik, budi pekertinya juga baik. Keenam kakaknya memunyai sifat yang berbeda. Mereka memunyai kebiasaan yang buruk, tinggi hati, dan congkak. Perkataan mereka kasar sehingga menyakitkan orang yang mendengar. Tidak mengherankan jika Putri Bungsu menjadi kesayangan ayah dan bundanya, bahkan menjadi pujaan seluruh rakyat di kerajaan itu. Sebagai putri seorang raja, jelas Putri Bungsu mempunyai dayang serta inang pengasuh, walaupun demikian ia tetap senang bekerja, terutama memasak di dapur. Pada suatu hari, kepala pisau kesayangan Putri Bungsu pecah. Ia sangat sedih dan memohon ayahanda agar dibuatkan kepala pisau yang baru. Raja langsung memerintahkan semua ahli pahat dan ahli ukir untuk membuat ulu lading/kepala pisau, berselang beberapa saat para ahli (pakkebbu ulu lading) massing-masing mempersembahkan hasil ulu lading buaatannya, tetapi belum satu pun berkenan di hati Putri Bungsu. Di ujung kampung kerajaan Raja ji Tanga diangkat, tinggallah seorang pemuda miskin bernama Si Manniki. Pekerjaannya adalah menjual kayu bakar, mengambil upah menumbuk padi atau menyiangi kebun. Si Manniki hidup sebatang kara. Ia dikenal penduduk sebagai pemuda yang jujur dan rendah hati. Pada suatu hari, Si Manniki berjalan melewati istana. Ketika raja melihatnya, beliau memerintahkan pengawal agar menyuruh Si Manniki singgah. Setelah Si Maniki berhadapan dengan raja, bertanyalah raja, "Hai anak muda, siapakah namamu dan hendak ke manakah engkau?" "Hamba bernama Si Manniki. Hamba hendak pergi ke ujung kampung untuk mengambil upah menumbuk padi," sahut Si Manniki dengan penuh hormat. Kemudian raja memerintahkan Si Manniki membuat kepala pisau untuk Putri Bungsu. Si Maniki menyanggupi perintah raja. Ia membuat kepala pisau dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai, kepala pisau itu diperlihatkan kepada Putri Bungsu. Ketika Putri Bungsu melihat benda itu, alangkah gembira hatinya. Ia mau menerima kepala pisau itu. Sungguh mengherankan, mengapa justru pisau sederhana seperti itu berkenan di hati Putri Bungsu. Si Maniki pun mendapat hadiah besar dari raja. Ia menerima hadiah itu dengan suka cita. Kepala pisau itu sangat disayang putri bungsu. Ia selalu membawa benda itu ke mana saja. Sampai-sampai pada waktu tidur sekalipun benda itu dibawanya. Demikianlah, waktu berjalan terus. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Setelah beberapa bulan, terjadi suatu keajiban pada Putri Bungsu. Putri Bungsu hamil tanpa nikah. Raja tentu sangat malu. Beliau percaya tidak percaya putri kesayangannya telah melakukan perbuatan zina. Raja dan permaisuri bertanya kepada putri bungsu, siapakah yang telah berani menghamili putrinya. Putri Bungsu tidak dapat memberikan jawaban dan keterangan lain, karena ia memang tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki. Ia didesak terus, tetapi ia hanya bisa menangis. Keenam saudaranya yang sejak dulu telah membencinya mengatakan Putri Bungsu telah membuat cemar nama raja. Mereka juga menyesali orang tua mereka yang selama ini sangat memanjakan Putri Bungsu. Putri Bungsu hanya bisa berdoa dan memohon agar mendapat pertolongan Tuhan. Akhirnya, Putri Bungsu melahirkan seorang putra yang sehat dan tampan. Bayi itu dipeliharannya dengan penuh kasih sayang. Raja Ji Tanga menerima kenyataan ini dengan tabah dan segera mencari penyelesaian. Atas nasihat dukun kepercayaan beliau, semua laki-laki yang ada di negeri itu dikumpulkan. Setelah mereka berkumpul, masing-masing diberi sebiji pisang masak. Menurut dukun, jika di antara mereka yang memegang pisang itu terdapat ayah bayi tersebut, bayi itu akan merangkak mendatanginya. Ternyata, tidak seorang pun di antara para hadirin didatangi bayi itu. Raja memerintahkan para pegawal untuk menyelidiki lagi jika masih ada laki-laki yang belum diundang ke istana. Setelah diteliti, ternyata semua laki-laki telah dipanggil, kecuali seorang pemuda miskin di ujung kampung, yaitu Si Manniki. Raja memerintahkan para pengawal untuk membawa Manniki menghadap. Si Maniki pun menghadap. Ia diberi sebiji pisang masak. Begitu pisang dipegang, si bayi merangkak mendatangi Si Manniki dan naik ke atas pangkuannya. Para hadirin tercengang dan tidak percaya bahwa pemuda miskin itulah ayah si bayi. Tidak ada pilihan lain bagi raja, kecuali menyerahkan Putri Bungsu dan bayinya kepada Si Maniki. Putri Bungsu dan Si Maniki menerima titah raja. Mereka pun meninggalkan istana. Si Manniki tetap giat bekerja dengan jujur dan selalu menyerahkan diri kepada Dewwata Seuwae. Dari persahabatannya dengan angin puyuh, kera, dan burung bangau, Si Manniki mendapat emas dan perak. Ia mempersembahkan emas dan perak itu kepada raja serta membuat istana dari emas dan perak. Karena suka cita, raja menikahkan Si Maniki dan Putri Bungsu. Si Maniki juga diangkat menjadi raja, karena Raja Ji Tanga sudah tua. Raja Si Manniki memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga seluruh rakyat taat dan menyayanginya.(6)  

Fungsi Dongeng
Bila mempelajari dengan seksama, ternyata cerita rakyat yang hidup hidup di kalangan masyarakat itu memiliki fungsi bermacam-macam. Cerita rakyat jelas merupakan suatu bentuk hiburan. Dengan mendengarkan cerita rakyat sepeti dongeng, mite atau legenda, kita sekan-akan diajak berkelana ke alam lain yang tidak kita jumpai dalam pengalaman hidup sehari-hari. Para penuturnya-pun sering mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan cerita yang pernah didengarnya dengan jalan menuturkan fantasinya sendiri. Dengan demikian cerita itu pada satu pihak menyebar secara luas di kalangan masyarakat dalam bentuk dan isi yang relative tetap karena kuatnya sipenutur pada tradisi, tetapi pada lain pihak juga banyak mengalami perubahan, karena hasratnya untuk menyalurkan angan-angannya serta citarasanya sendiri. Dengan gaya penuturan sendiri pula. Dan hal yang terakhir inilah yang menjadi salah satu sebab lahirnya versi-versi baru dari mite, legenda dan dongeng. Dan justru perubahan dari para penutur yang kemudian itulah cerita rakyat dapat mempertahankan kelestarian hidupnya. Perubahan versi sering pula terjadi bila cerita rakyat itu menyebar ke daerah lain yang masyarakatnya memiliki lingkungan budaya yang berbeda. Dengan perubahan versi itu, cerita rakyat yang menyebar tadi seolah-olah mengalami revisi. Unsur-unsur yang tidak sesuai dengan pola kebudayaan dari masyarakat yang menerima cerita rakyat itu di tanggalkan, sedangkan unsur-unsur yang bersesuaian pola kebudayaan diserap dan dipadukan, sehingga pada akhirnya cerita rakyat tersebut tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang datang dari luar, melainkan telah dirasakan sebagai miliknya sendiri. Dalam hal ini unsur hiburan yang terkandung dalam dongeng versi baru makin dapat dirasakan secara akrab. Unsur hiburan dongeng dapat pula terlihat pada saat dongeng itu dituturkan. Biasanya penuturan dongeng memilih waktu-waktu senggang, seperti pada malam hari sesudah orang bekerja berat atau sibuk dengan berbagai tugasnya di siang hari. Lebih-lebih di kalangan anak-anak, kususnya didaerah pedalaman yang belum memiliki penerangan listrik, bagi mereka penuturan dongeng sangatlah mengasyikkan. Pada malam hari tak ada tempat bermain di luar rumah karena tidak ada listrik sehingga sangat gelap, jadi bila ada orang tua yang mendongeng diserambi atau di surau-surau, anak-anak berkerumun mendengarkannya. Fungsi dongeng selain sebagai hiburan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan. Sesungguhnya orang yang bercerita pada dasaranya ingin menyampaikan pesan atau amanat yang dapat bermanfaat bagi watak dan kepribadian para pendengarnya. Tetapi jika pesan itu disampaikan secara langsung kepada orang yang hendak dituju sebagai nasehat, maka daya pukau dari apa yang disampaikan itu menjadi hilang. Jadi pesan atau nasehat itu akan lebih mudah diterima jika dijalin dalam cerita yang mengasyikkan, sehingga tanpa terasa para pendengarnya dapat menyerap ajaran-ajaran yang terkandung dalam cerita itu sesuai dengan taraf dan tingkat kedewasaan jiwanya masing-masing. Fungsi lain lagi dari dongeng adalah sebagai pengokoh nilai-nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Dalam dongeng terkadang ajaran-ajaran etika dan moral bisa dipakai sebagai pedoman bagi masyarakat. Di samping iu di dalamnya juga terdapat larangan dan pantangan yang perlu dihindari. Dongeng bagi warga masyarakat pendukungnya bisa menjadi tuntunan tingkah laku dalam pergaulan sosial. Apalagi bagi masyarakat yang belum mengenal pendidikan formal dalam bentuk sekolah, maka cerita rakyat atau dongeng menjadi sarana untuk mengajarkan budi pekerti. Dan karena penyampaiannya mengasyikkan maka meskipun sesungguhnya dongeng itu mengajar dan mendidik pendengarnya, tetapi yang diajar atau dididik tidak merasa dipaksa, melainkan dengan tingkat kedewasaannya masing-masing bisa menyerap ajaran yang terjalin di dalam cerita, inti ajaran dalam cerita atau dongeng tidak akan mengalami perubahan selama masyarakat pemiliknya juga tidak berubah dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang masih berlaku. Sehubungan dengan hal diatas, dongeng juga befungsi sebagai pengontrol kehiduapn sosial. Bila dalam masyarakat terjadi kepincangan atau pelanggaran norma-norma, maka dengan melalui cerita hal-hal yang tidak sewajarnya itu bisa dikritik. Sipenutur cerita dengan leluasa bisa mengubah bagian-bagian cerita yang isinya merupakan pelontaran kritik-kritik tanpa merasa segan terhadap pihak-pihak yang menjadi sasaran kritiknya.(7)
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa secara umum dongeng selain untuk hiburan, dapat pula berfungsi untuk menjaga nilai-nilai atau norma-norma yang terdapat dalam masyarakat dengan memasukkan amanat yang dapat diambil dalam dongeng tersebut, namun secara tidak langsung melalui dongeng, pendongeng dapat mengkritik hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan atau norma yang terdapat salam masyarakat. Jika dihubungkan dengan kedua dongeng diatas, maka dongeng di atas berfungsi untuk mengingatkan kita bahwa kerja keras dan sifat pantang menyerah akan apa yang dikerjakan akan menghasilkan keberhasilan pada akhirnya. Hal ini dapat dilihat dari perjuangan si pue-pue untuk mencari Tuhan-Nya dan akhirnya menemukan keberadaan Tuhannya setelah perjalanan yang panjang dan pada akhir cerita tubuh di pue-pue telah sempurna (utuh) dan sadar bahwa si pue-pue harus menyadarkan warga kampungnya akan keberadaan Tuhan. Sedangkan dalam cerita kedua, berkat kerja keras dan persahabatannya dengan angin puyuh, kera, dan burung bangau, akhirnya si Maniki dapat membuat istana dari emas dan mempersembahkan istana tersebut pada Raja kemudian Raja menikahkan putrinya dengan si maniki, dan akhirnya berkat kebaikan dan kerja kerasnya pula akhirnya si Maniki menjadi Raja.
Daftar Pustaka :
Danandjaja, James. Folklor Indonesia. 1997. Cet.V. Jakarta. Pustaka Utama Grafiti. (1),(2),(3),(4) Budayapappaseng.blogspot.com. (5),(6)
id.wikipedia.org.

0 komentar:

Poskan Komentar